:::: MENU ::::
Dua ribu sembilan belas sudah menjejak bulan kedua. Pertengahan. Berarti sudah terlewat 53 hari dari orang-orang bergembira karena kalender yang terpasang di dinding berganti baru. Selama itu pula berbagai asa yang tersemat di tahun lalu, 2018, satu per satu mulai ditapaki, di-ikhtiar-kan untuk sekadar terwujud.

"Selamat datang para MABA NAC Batch 3", begitu asisten rektor Kampus Nulis Aja Community (NAC) memberi kata pertama pada kami, mahasiswa kampus NAC. Hanya saja saya tidak membalas ucapan welcome itu, karena saya tidak merasa Maba (mahasiswa baru), dan saya adalah mahasiswa yang tidak lulus ujian sidang, akhirnya mengulang angkatan berikutnya agar bisa berkarya lebih baik lagi.

Ada rasa senang, karena penantian untuk belajar lebih kepada orang-orang yang berkompeten akhirnya tiba. Ada pula rasa khawatir, atau cemas dengan kemampuan diri sendiri. Selalu saja muncul berbagai perasaan yang campur aduk itu. Toh, pada akhirnya diri kita jualah yang menentukan apa yang terjadi di masa mendatang.

Bukankah sudah sering kita dengar di dalam agama, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah nasibnya (kurang lebih seperti itu). Saya pikir tentu saja firman itu berlaku juga buat orang per orang. Seseorang yang bekerja keras, bekerja sungguh-sungguh tentu akan mendapatkan hasil yang besar dan memuaskan. Sebaliknya jika seseorang hanya sekadarnya bekerja, hasilnya pun sekadarnya saja, tidak lebih.

Apapun yang terjadi, saya akan menjalaninya dengan sabar dan istiqomah. Terima kasih kepada Mbak Hiday (link penyihir) sebagai rektor Kampus NAC yang telah memberi kesempatan kepada saya menuntut ilmu lebih tinggi. Begitu juga dengan Mbak Dymar dan Mas Septian Wijaya yang tak henti-hentinya berbagi ilmu (semoga amalnya berbuah jariyah dan ilmunya menjadi bermanfaat).

-ooOoo-

#OneDayOnePost
#NulisAjaCommunity
#SebarCeritaBaik
Terus terang, dalam empat hari terakhir terselip rasa kecewa yang teramat. Ketika melihat anak-anak melakukan ujian praktikum, terutama di saat mereka mengikuti uji praktik dua mata pelajaran yang saya ampu: Teknologi Tnformasi dan ilmu kimia.

Saya mulai dari bagaimana pengetahuan awal mereka tentang materi yang diujikan. Bukan untuk anak-anak kelas awal, atau anak-anak sekolah menengah pertama, tetapi diujikan kepada anak-anak tingkat akhir di SMA, yang artinya dalam beberapa bulan ke depan, mereka menginjak bangku kuliah atau dunia kerja. Untuk ukuran tingkat pendidikan seperti itu, seharusnya anak-anak itu telah memiliki pengetahuan dasar yang mumpuni, dan motivasi belajar mandiri yang besar, tidak lagi diajarkan konsep dasarnya, atau harus diguyah-guyah agar mau membuka buku untuk belajar. Nyatanya, kelakuan mereka telah menyisakan rasa kecewa dalam diri saya.

Tugas ujian praktik pertama adalah mata pelajaran Teknologi Tnformasi, yaitu membuat video tutorial disertai narasi menggunakan Microsoft PowerPoint. Kalian semua tahu, aplikasi yang termasuk ke dalam Microsoft Office ini sudah sangat familiar, bukan lagi barang baru, dan menjadi sebuah "keharusan" setiap orang menguasainya. Apalagi dengan diterapkannya Kurikulum 2013 (tidak ada silabus mapel TIK) dengan asumsi semua anak SMA sudah menguasai teknologi, setidaknya menguasai Office dan aplikasi dasar lainnya.

Apa yang terjadi? Beberapa anak mengacungkan tangan, meminta saya untuk mengecek komputer, yang menurut mereka ada masalah. Katanya, "saya tidak dapat memberikan efek animation apapun di lembar kerja saya, Pak. Mungkin aplikasinya error." Setelah saya cek, ternyata mereka hanya tidak meng-klik objek (teks, gambar, ataupun shape lainnya) yang ingin diberi animation. Tentu saja pilihan animation tidak akan aktif sampai kapan pun selama objeknya tidak dipilih. Saya hanya geleng-geleng kepala.

Apalagi ketika ada lebih dari dua orang anak yang melakukan proses shut down tidak sesuai dengan seharusnya. Anak-anak itu langsung menekan tombol power di CPU untuk melakukan shut down, dan dikiranya karena proses menghidupkan komputer dengan menekan tombol di CPU, maka untuk mematikannya juga dilakukan langkah yang sama. Ah, sungguh terlaaalu!

Dua cerita kecil dari banyak cerita lainnya yang menggambarkan kondisi pelajar, anak-anak tingkat akhir SMA. Ah, itu kan hanya kasuistis? Ya, mungkin memang benar, tidak semua sekolah mengalami hal seperti ini. Dan saya sendiri mengalami hal ini bukan sekali dua kali. Tetapi setiap tahunnya selalu mendapatkan anak-anak yang berperilaku seperti itu.

Berbeda lagi cerita anak-anak ketika mengikuti ujian praktikum mapel Kimia. Seorang anak laki-laki dengan perawakan tinggi besar memrotes alat yang digunakannya tidak berfungsi. Saat itu, dia sedang melakukan pengukuran suhu menggunakan termometer dalam bahasan Sifat Koligatif Larutan. Sidik punya selidik, anak itu ndilalah memegang termometer terbalik! Oh, nooo...!

Dia memegang bagian ujung bawah yang terdapat alkoholnya, sedang indikator suhu atau ujung yang seharusnya dipegang, dia masukkan ke dalam gelas kimia yang berisi es batu. Temannya satu lagi, yang melakukan praktikum di meja sebelah, melakukan hal yang hampir sama. Temannya itu bertanya apakah dia sudah memegang termometer dengan benar. Apa yang dia lakukan? Posisinya memang benar, hanya saja dia memegang tutup wadah termometer, artinya bagian tutup wadah termometer tidak dilepas melainkan tetap berada pada ujung atas termometer dan dia pegang. Sontak saya tergagap, tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan campur aduk antara marah, kecewa, kesal, bingung apa yang terjadi sampai anak-anak itu melakukan hal yang di luar batas kewajaran.


Dalam pikiran saya langsung bertanya, salah siapa jika sudah seperti ini? Apakah salah saya sebagai pengajar di kelas akhir, karena saya sebagai penguji ujian akhir? Salah guru yang mengajar di kelas sebelumnya, karena tidak mengajarkan pengenalan alat praktikum? Salah anak-anak yang tidak mau mencari tahu sendiri, dengan tuntutan Kurikulum 2013, bahwa guru hanya sebagai fasilitator? Atau pemerintah yang memaksakan kurikulum baru, padahal anak-anak di daerah dan sekolahnya sendiri belum siap?

Meminta sarana dan prasarana yang ideal, yang sesuai dengan standar pendidikan tentu saja tidak mungkin. Ketika kami melakukan ujian praktikum kimia hanya menggunakan kelas yang disulap susunan tempat duduknya menyerupai laboratorium kimia. Apalagi alat dan bahannya, seperti lemari asam yang seharusnya tersedia. Saya lalu berpikir ulang, seberapa pun tidak idealnya kondisi anak terutama kondisi sekolah (dalam hal sarana dan prasarana, misalnya), tetap anak-anak itu harus mendapatkan keterampilan dasar menggunakan aplikasi ataupun alat-alat praktikum lainnya.

Tugas siapa? Semua guru yang mengajar anak tersebut. Taruhlah guru sejarah yang akan mengajarkan suatu bahasan menggunakan aplikasi presentasi. Tidak ada salahnya, di awal, sambil menjelaskan apa dan bagaimana menggunakan aplikasi presentasi tersebut. Apakah membuat grafik, membuat bentuk lingkaran atau segitiga, memberi animation, memberi sound, atau memasukkan sebuah video. Begitu pula dengan guru sains dan guru kimia pada kelas awal (kelas VII atau kelas X di tingkat SMA) yang seharunya mencoba memberi pengetahuan dasar tentang sikap ilmiah dan pengenalan alat praktikum.

Semalam hujan turun tanpa henti. Minggu pagi ini, gerimis masih membuat suara lembut di atap seberang rumah, sehingga kami hanya berbincang di teras rumah sambil menikmati coklat panas dan beberapa camilan yang asin gurih. Bacaan di atas ditulis sekadar mengeluarkan kekesalan yang saya rasakan selama empat hari terakhir, ditulis sambil menatap langit yang memutih, memandang masa depan bangsa ini yang saya yakin akan menjadi bangsa besar yang disegani oleh negara-negara besar lainnya di dunia.

-ooOoo-


#OneDayOnePost
#Kimia
Sebuah biografi

-ooOoo-

Ungkapan tentang polisi baik, di negeri ini hanya ada tiga polisi yang tidak dapat disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng, bukan berarti polisi selain dirinya buruk. Tetapi ungkapan itu lebih tepat menganalogikan bagaimana pribadi seorang Hoegeng sangat istimewa di tengah-tengah citra polisi (pada saat itu) begitu terpuruk, ditambah penguasa yang otoriter dan banyak terjadi nepotisme.

Terlahir dengan nama Hoegeng Iman Santoso, dan lebih akrab dipanggil dengan Hoegeng atau Mas Hoegeng merupakan pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah. Dia menjabat sebagai Kapolri, pucuk pimpinan tertinggi di institusi Bhayangkara, hanya tiga tahun. Sebuah waktu teramat pendek bagi seorang perwira bintang empat. Bukan karena Mas Hoegeng memiliki catatan buruk, melakukan pelanggaran, atau indisipliner sebagai prajurit. Tetapi lebih karena faktor non-teknis, bersitegang dengan penguasa, yang menurutnya tidak sesuai dengan sumpah jabatan dan kejujuran.

Pada tulisan ini, saya akan banyak mengisahkan perjalanan hidup Mas Hoegeng dari sisi manusia yang selalu menjunjung tinggi disiplin, kejujuran, dan sikap respect kepada siapa pun, kepada orang yang lebih tua maupun yang lebih muda. Kisah-kisah yang membuat, saya sendiri begitu, takjub siapa pun. Pribadinya jauh dari fisiknya yang cenderung tinggi kurus, sulit untuk tersenyum, dia merupakan pejuang sejati, tidak pernah takut, sederhana, bersih, jujur, bahkan berani menghadapi sendiri kepala negara saat itu, Soeharto.

Pernah kalian melihat atau membayangkan seorang perwira, turun tangan sendiri, mengambil alih tugas bawahan tanpa sungkan? Seperti yang dilakukan Hoegeng, dimana dia telah menjabat sebagai Kapolri, jenderal bintang empat. Rutinitasnya berangkat ke kantor jauh sebelum pagi menyingsing, melewati jalan yang berbeda setiap harinya. Hal itu dilakukan menurutnya agar bisa melihat kondisi keamanan wilayahnya, setidaknya melihat keadaan lalu lintas di berbagai tempat. Suatu ketika dia melihat lalu lintas dalam keadaan semrawut. Tidak ada satu pun petugas yang mengatur. Tak lama dia turun dari mobil, lalu mengatur lalu lintas, berperan seperti polisi lalu lintas sendirian, dengan seragam Kapolri yang dikenakannya.

Kisah lain ketika Mas Hoegeng diberi tugas di Kota Medan, sebagai reskrim. Dirinya dibuat geleng-geleng kepala, heran bukan main. Belum juga tiba di rumah dinas yang akan didiami, baru saja mendarat dan masih berada di bandara, dia sudah ditelepon seseorang yang akan menjemputnya dengan penyambutan istimewa. Belum lagi berbagai hadiah yang akan segera dikirim, sehingga dia diminta untuk menginap beberapa malam di hotel, sampai semua perabotan yang dikatakan sebagai hadiah dari pengusaha kota itu selesai disimpan. Selang beberapa hari, dia dapatkan perabotan mewah, termasuk mobil yang telah disiapkan. Tanpa basa-basi, semua hadiah-hadiah, yang bagi orang kebanyakan sangatlah menggiurkan, itu diletakkan begitu saja di luar rumahnya seperti tidak ada harganya.

Toko bunga istirnya sendiri, dipaksa tutup, dengan alasan menjaga jika orang-orang membeli bunga di tempat tersebut hanya karena dia seorang pajabat kepolisian. Salah seorang anak kandungnya tidak diizinkan untuk ikut daftar menjadi anggota polisi, dengan alasan pemberian izin dari orang tua disalahartikan oleh bawahannya. Sampai-sampai anaknya itu mendaftar masuk mengikuti pendidikan angkatan laut (dulu dinamakan AKABRI AL), harus mendapat izin tertulis dari orang tua. Izin tersebut tetap dia berikan, tetapi setelah pendaftaran ditutup. Otomatis anaknya tidak lolos seleksi mengikuti pendidikan di AKABRI.

Cerita heroik lainnya sangat menarik untuk diikuti, bagaimana Hoegeng mengusut tuntas kasus "Sum Kuning", pemerkosaan seorang perempuan penjual buah, yang melibatkan anak-anak perwira dan pejabat tinggi di Kota Yogya waktu itu. Bagaimana dia mengendus penyelundupan mobil mewah di Tanjung Priok, yang dilakukan oleh seorang pengusaha dengan beking seorang tentara. Begitu juga bagaimana dia meminta presiden (Soeharto) agar satuan TNI tidak terlalu campur tangan atas kasus-kasus ataupun urusan lain intern kepolisian, sampai bagaimana dia ikut serta mendandatangani surat kontroversial yang mengritik kebijakan presiden yang dikenal dengan Petisi 50.

Siapa pun yang ingin mencari tokoh panutan menjadi pribadi yang jujur, sederhana, berani, selalu menghargai kepada atasan maupun bawahan, sepatutunya membaca kisah Hoegeng. Terakhir, sebagai penutup dan pikiran penting dari seorang Hoegeng, saya kutip salah satu nasihatnya: "Memang baik menjadi orang penting. Tetapi yang terpenting adalah menjadi orang baik."

Semoga bermanfaat.

-ooOoo-

#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP
#TugasLevel2
#Level2Tantangan1
Tahun 1967 ...

Suara gedebak-gedebuk masih terdengar. Sejak pagi tadi, empat orang dengan otot kekar hilir mudik mengangkut berbagai perabotan mewah: lemari berkayu jati, sofa kualitas ekspor, cermin raksasa dengan bingkai bergaya art deco, beberapa permadani Turki dengan beludru yang sangat tebal, termasuk sebuah mobil mewah, Borgward Isabella Kombie. Semuanya tergelatak begitu saja, hanya ditaruh serampangan. Terkadang pria itu --orang yang memberi perintah mengeluarkan semua perabotan-- menghardik pesuruhnya, agar melempar begitu saja barang-barang antik yang belum tentu setiap rumah mewah memilikinya.

Hanya satu dua kendaraan yang lewat depan rumahnya. Bukan sebuah tempat strategis yang selalu dijejali lalu lalang mobil ataupun motor. Tetap saja, penghuni rumah itu bukan orang sembarangan. Hampir setiap jam selalu saja ada mobil atau motor --bahkan truk komando yang membawa pasukan berseragam-- terpakir di depan rumahnya.

"Bagaimana dengan Chevrolet Bel Air  yang ada di belakang rumah, Pak?"

"Bawa sekalian. Taruh di depan. Lempar saja kuncinya!" ujar pria kurus tinggi masih dengan pakaian dinas lengkap.

"Tapi semua barang ini dari ..."

"Jangan anggap saya bodoh! Saya tahu semua barang-barang ini. Sudah jangan banyak omong, lakukan saja apa yang saya perintahkan."

"Maaf, bukan saya lancang. Saya hanya ingin memastikan saja, Pak. Bapak sudah mempertimbangkan akibatnya dan tetap yakin untuk membuang semua barang itu?" dengan penuh kehati-hatian, orang suruhan pemilik rumah meyakinkan tuannya.

"Kamu jangan meremehkan sebuah kejujuran dan integritas, Bung." Pria itu menegakkan badan. Topi pet terpasang lurus, menambah kesan wibawa bagi siapa pun yang berhadapan dengan dirinya, "Semuanya terpulang pada kepekaan setiap pribadi dalam mengenali serta menolak nilai kejahatan yang akan meracuni hidup dan kehidupan kita."

"Ba, baik Ndan."

-ooOoo-

Ketukan berirama terdengar dari salah satu ruangan. Papan nama di atas pintu masuk terpasang jelas, "Reskrim". Dua orang pria tampak menunduk lemah, dengan pakaian compang-camping, robek di sana-sini, lusuh. Mereka hanya mengenakan celana sebatas lutut, tangan diborgol, dan salah satu kaki diantara mereka terlihat diperban dengan bekas timah panas menembus betis kanannya.

Di hadapannya seorang berpakaian dinas sibuk bertanya ketus, mendengar jawaban kedua pria, lalu mencatatnya menggunakan Oliveti usang dengan bagian atasnya yang sudah tidak bertutup lagi. Entah apa yang dilakukan kedua pria itu, yang jelas kumis melintang orang berpakaian dinas semakin mentereng menghias wajah garangnya yang merah padam mendengar pengakuan kedua pesakitan dengan rambut plontos itu.

Pada sisi lain ruangan, seorang berpakaian dinas lain, dengan bintang satu di pundaknya, memutar angka pada telepon di depan mejanya. Tak lama, terdengar suara setengah gemetar di seberang telepon.

"Kamu mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" pria jangkuk kurus setengah menginterogasi lawan bicaranya.

"Bukan, begitu Ndan." Getarnya semakin menunjukkan rasa bersalah yang semakin kentara.

"Saya di sini atasan! Apa pun yang terjadi saya harus tahu. Apalagi kasus ini menyangkut perempuan biasa melawan pembesar di pemerintahan." Amarahnya terhenti, ketika sentuhan lembut mendarat di bahu. "Sabar, Mas Hoegeng. Tahan emosi. Dia tidak tahu apa-apa, hanya bawahan yang tahunya perintah atasan." Suara bariton terdengar wibawa, membuat pria kurus yang dipanggil Mas Hoegeng itu menahan nafas.

"Ayo kita duduk dulu, sambil ngopi. Akan saya ceritakan semuanya kepadamu." Suara klik gagang telepon mengakhiri percakapan Hoegeng dengan bawahannya.

Kepulan asap rokok menyemburat dari kedua mulut orang yang tampaknya kawan dekat. Kopi hitam panas, dihidangkan di meja kecil sebuah ruangan 3 x 4 meter.

"Namanya Sumaridjem. Hanya perempuan biasa, sehari-harinya berjualan di pinggiran Kota Yogya. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Hanya saja, hari itu ketika hendak pulang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, tiga atau empat orang di dalamnya memaksa perempuan berkulit kuning langsat itu masuk." Pandangannya manatap langit-langit, diikuti penampakan asap putih membumbung tinggi.

"Sumaridjem. Perempuan berkulit kuning langsat. Hm, Sum ... Sum kuning!" Seolah berbicara pada dirinya sendiri Hoegeng mengerutkan dahinya.

"Apa kau bilang?" Kawannya tak paham apa yang dikatakan Hoegeng. "Ah, tidak. Bukan apa-apa, lanjutkan saja ceritamu, Bung."

"Baiklah," dia mulai melanjutkan cerita, "ketiga orang itu masih muda, membawa mobilnya ke arah Kota Magelang. Di tengah perjalanan, mereka membius Sumaridjem. Setengah sadar, perempuan itu merasa mereka memerkosanya beramai-ramai, masih di dalam mobil. Keterangan itu sejalan dengan hasil pemeriksaan visum, ada luka di beberapa tempat di kelamin perempuan itu."

"Sumaridjem dibuang di tepi jalan Wates-Purworejo, di daerah Gamping dalam keadaan tak berdaya, tanpa uang sepeser pun. Ditemani oleh seorang wartawan koran, dia lalu melaporkan persitiwa itu ke Denpom. Singkat cerita pelaku pemerkosaan perempuan itu tak pernah tertangkap atau diselidiki sampai tuntas. Yang terjadi justru Sumaridjem yang ditahan polisi setelah keluar dari rumah sakit."

"Saya paham sampai sini, Bung." Hoegeng mengangguk pelan.

"Setelah geger karena pernah diangkat kisahnya di koran, orang-orang mulai curiga terhadap kasus ini. Dan, kau tahu, desas-desus itu mengarah kepada pelaku pemerkosaan adalah anak para pejabat militer atau anak petinggi pemerintahan di Yogya." Hening sebentar, dia ragu untuk meneruskan ceritanya tentang perempuan bernama Sum itu, "tapi saya ingin berpesan Mas, sebagai seorang kawan. Tidak usahlah kau ikut campur kejadian yang sudah lewat."

"Kau paham tentang integritas dan komitmen, Bung?"

"Saya paham, sangat paham."

"Ya sudah. Pegang itu baik-baik. Kalau perlu nyawa sebagai taruhannya!"

"Tampaknya pembicaraan kita tak bisa berlanjut. Saya tahu kau akan bergerak, mengusut kasus ini sampai tuntas. Tak peduli siapa pun yang kau hadapi pada kasus ini."

"Baiklah, saya pamit dulu." Hogeng bangkit, berbalik badan menuju pintu keluar. Langkahnya terhenti di ambang pintu, "tunggu! Saya hanya ingin bilang, hati-hatilah kau. Semoga Tuhan selalu melindungimu." Keduanya bertemu pandang, saling tersenyum penuh arti.

-ooOoo-

Tahun 1971 ...

Hari-hari mengabdi di kepolisian telah berakhir. Akhirnya pria tinggi kurus itu --walapun kini lebih gemuk dan berisi--, bisa rebahan di amben depan rumah kontrakannya. Baju dinas, dengan bintang empat tersemat di pundaknya, yang dipakai hanya tiga tahun telah dia tanggalkan, digantung di sebuah lemari kayu jati dengan kaca besar sebagai pintunya. Hanya tiga tahun, sebuah waktu yang sangat sebentar bagi orang yang berada di puncak tertinggi pimpinan kepolisian. Duduk di seberang amben, seorang kawan yang sangat loyal kepadanya, berkunjung pada suatu siang yang terik.

"Sudah saya bilang dari awal, Mas, dirimu ini ngeyel sekali." Tawa kecilnya hanya menegaskan, bahkan kawan terdekatnya tidak pernah memahami jalan pikiran tokoh besar itu.

"Sudahlah, tak usah terlalu risau terhadap diriku, Bung. Saya hanya menjalankan amanah apa yang mereka berikan. Kalau ujug-ujug atasan saya menyuruh sesuatu yang melanggar sumpah jabatan, sampai pistol terhunus di pelipis ini pun, saya tak akan pernah melakukannya."

"Terus bagaimana cerita Sumaridjem, Sum Kuning itu?"

"Tak pernah terungkap siapa pelakunya. Gilanya lagi, malah Si Sum yang jadi pesakitan karena dituntut atas tindakan melakukan saksi palsu dan keterangan bohong. Lebih gila lagi, Sum dituduh sebagai antek PKI, dibuka pakaiannya bulat-bulat, dengan alasan ingin memeriksa ada tidaknya tanda PKI di tubuhnya."

"Hahaha, sudah wueedan kabéh!" Tawa lepas keduanya begitu nyaring, menertawakan dagelan yang terjadi setahun lalu.

"Akhirnya saya pun dicopot dari jabatan tertinggi itu. Dengar bisik-bisik dari orang terdekat presiden, saya akan dikucilkan dari korps polisi. Tak boleh menghadiri ulang tahun Bhayangkara, tak boleh diundang di acara resmi apa pun, semua surat yang beralamat kepadaku disortir, bahkan permintaan saksi kawan saya, dan kebetulan akan menjadi menantunya tak pernah diizinkan."

"Benar-benar gila jenderal tua itu." Sambil geleng-geleng kepala, dia tersenyum kecut. "Puncaknya kamu malah ikut menandatangani surat kontorversial itu. Sama saja bunuh diri, Kawan. Kurang apa berada di pucuk pimpinan tertinggi, tinggal nikmati saja. Eh, malah cari penyakit."

"Hati nurani tak pernah bisa berbohong, Bung. Sama sekali tak pernah bisa. Siapa pun! Mau orang bersorban, mau orang berseragam, bahkan pemabuk dengan tato di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya, saya yakin Petisi 50 akan menjadi saksi bagaimana sebuah kekuatan otoriter tetap bisa dilawan selama kita membawa hati nurani, bukan membawa nafsu."

"Ya, saya tahu itu. Hanya saja tidak semua orang bisa menjadi sepertimu, Mas." Entah sadar atau tidak, matanya mulai berkaca, "sejak pertama menjadi pejabat Reksrim di Medan, kau mengeluarkan semua barang-barang mewah pemberian dari para pengusaha Medan. Kau tidak pernah takut ancaman yang meneror tiap malam. Membawa kasus Sum Kuning yang melibatkan anak pejabat, dirimu juga nekat dengan taruhan nyawamu sendiri, tidak ada yang mau menjadi beking ketika kau bergerak. Puncaknya ketika presiden meminta jajaran kepolisian tidak usah ikut campur urusan militer, kamu balik meminta agar militer tidak ikut campur juga dalam penanganan kasus yang ditangani kepolisian."

Hoegeng tersenyum tenang, wajahnya teduh. Sambil menutup mata, "ingat Kawan, semuanya akan kembali dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Memang baik menjadi orang penting. Tetapi yang terpenting adalah menjadi orang baik."

-ooOoo-


#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP
#TugasLevel2
#Level2Tantangan2
#Fiksi



Konon katanya, imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Ungkapan yang sangat terkenal dan fenomenal, karena yang mengatakannya adalah sesepuh para ilmuwan, karuhun yang teori-teorinya selalu menjadi rujukan ilmu sains modern. Siapa lagi kalau bukan penemu persamaan E = m.c^2, Albert Einstein (dan omong-omong dia seorang Yahudi, lho. Orang-orang Yahudi memang dikenal dengan otaknya yang brilian).

Nah, si kakek Albert sendiri pernah mengkhayal seperti ini: "Jika kita bercermin berarti kita melihat bayangan kita sendiri di dalam cermin. Artinya ada cahaya yang mengenai tubuh atau wajah kita. Cahaya di sekitar tubuh itu berjalan, mengenai cermin dan memantulkannya kembali, sampai kita bisa melihat bayangan itu. Jika seseorang terbang ke luar angkasa, sambil memegang cermin, lalu melesat cepat dengan laju melebihi kecepatan cahaya, yaitu 3 x 10^9 meter per detik. Apa yang terjadi? Apakah orang itu tetap dapat melihat bayangan di dalam cermin itu? Atau dia tidak dapat melihat bayangannya karena dia sendiri berjalan melebihi kecepatan cahaya itu sendiri?"

Silakan bayangkan saja sendiri. Kalau saya sih ogah membayangkannya, lalu mulai bertanya tentang hal lain yang semakin membuat kening berkerut. Biarlah para ilmuwan itu yang memikirkannya. Hasilnya kita nikmati bersama tanpa bersusah payah menghitung, mengubahnya dalam notasi matematika, menyederhanakannya, menguji, dan lahir sebagai teori. Cukuplah saya tahu bahwa besar energi sangat besar akan dilepaskan sebuah benda sebanding dengan massa benda itu yang bergerak pada kuadrat kecepatan cahaya, E = m.c^2.

Ilmuwan kimia yang berperilaku sebagai pengkhayal juga sangat banyak. Sebutlah John Dalton, dengan kacamata bulat khas John Lennon (mungkin mereka bersaudara, atau membeli kacamata di toko yang sama), merupakan pencetus teori atom mdoern pertama kalinya. Dia mengatakan bahwa semua materi terdiri dari bagian sangat kecil yang tidak dapat dibagi atau dipecah lagi menjadi partikel kecil, yang disebut atom (atomos). Pengikutnya seperti Rutherford, J.J Thomson, Niels Bohr, Werner Heisenberg sampai Louis de Broglie dan Erwin Schrödinger, dengan teori mekanika kuantum yang sangat fantastis itu. Mereka semua bisa saya katakan sebagai pengkhayal tingkat tinggi. Luar biasa memang, bisa menggambarkan model atom yang luar biasa hanya dengan melihat gejala-gejala yang ditimbulkannya.

Baca juga: "Melangit Bersama Ilmu Kimia" dan "Air"

Satu lainnya yang juga tidak kalah fantastis adalah Kekule, penemu struktur senyawa benzena.  Jika kalian belum tahu apa itu senyawa benzena, jangan salah paham dengan bensin. Walaupun namanya mirip-mirip, "benzena" dan "bensin" merupakan dua senyawa yang berbeda jauh. Dan benzena tidak diucap dengan bensin juga ya.

Bagaimana ceritanya Kekule menemukan struktur benzena?

Begini ceritanya. Pada suatu malam yang gelap (dan malam selalu gelap seperti itu), dengan gemintang bertebaran, bulan sabit, suara jangkrik, tidak ada awan sepulas pun menghias langit malam itu. Tepat ketika tiang listrik berbunyi dua kali tueng... tueng...! yang menunjukkan malam itu telah beranjak dua jam setelah tengah malam, Kekule bermimpi. Ilmuwan yang memiliki dua buah bola mata dan berhidung mancung itu mimpi buruk, bad dream. Dalam mimpinya ada ular panjang, berbadan besar, dengan gigi taring tajam. Ular itu mendesis, merayap, lalu menggigit ekornya sendiri. Karena kepala ular itu terus bergerak ekornya pun ikut bergerak, sehingga ular itu bergerak melingkar, terus bergerak, bergerak membentuk sebuah lingkaran yang terus bergerak.

Kekule terbangun dengan peluh deras di sela-sela dahinya. Bayangkan, jika orang Batujajar, Cimahi, bermimpi seperti dirinya, lalu terbangun. Tebak apa yang ada di pikiran orang Batujajar itu? Alah siah, ada apa ini, kenapa saya mimpi buruk, mimpi ular besar menggigit ekornya sendiri. Jangan-jangan nanti siang saya akan mengalami hal buruk, atau jangan-jangan ada teman saya yang bakal menusuk dari belakang. Hehehe.

Beruntung Kekule bukan orang Batujajar atau orang Cigondéwah. begitu terbangun dia langsung teringat tentang senyawa benzena yang memiliki 6 atom karbon dan 6 atom hidrogen itu. Pikirannya tercerahkan sehingga dia menuliskan struktur benzena berbentuk 6 atom C melingkar, heksagonal, segi enam, dan berotasi bergerak melingkar terus menerus.

Sedikit cerita tentang benzena, merupakan senyawa aromatik, yaitu senyawa yang menimbulkan wewangian, berbentuk segi enam heksagonal dengan 3 ikatan rangkap selang-seling, berwujud cair (dalam suhu kamar, 25 derajat celcius), tidak berwarna, mudah terbakar, juga mudah menguap. Turunan dari benzena sangatlah banyak, seperti: fenol (bahan diesinfektan), toluen (bahan peledak), asam beznoat (pengawet makanan), anilin, dan nitrobenzena.

Sebutlah seperti betadine, pengawet pada kecap, semir sepatu, obat sakit kepala, dan hampir semua jenis plastik, memiliki kandungan senyawa benzena atau turunannya.

Begitulah tentang benzena, dengan bentuk strukutrnya hasil dari mimpi seorang kimiawan bernama Kekule. Kita pun ketika berada dalam lingkungan sekitar, sebenarnya seringkali mengkhayal atau membicarakan tentang pengalaman mimpi malam tadi. Dan di sini kita harus meyakini bahwa apa pun yang kita alami sejatinya selalu mempunyai hikmah yang terkandung di dalamnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang kita alami tersebut. Apakah kita memilih berprasangka bahkan menghubungkannya dengan sesuatu hal yang buruk? Atau seperti Einstein atau Kekule yang menyikapi khayalan dan mimpi-mimpinya menjadi hal positif sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi jutaan manusia?

Demikian, semoga bermanfaat.

-ooOoo-

#OneDayOnePost


Ruang aula itu sangat riuh. Hampir tak ada kursi kosong. Semuanya telah ditempati oleh orang-orang yang begitu antusias mendengar motivasi dari seorang pemilik perusahaan es krim terbaik di negeri Paman Sam, seorang yang terbilang masih belia yang telah menduduki poisis puncak di perusahaan tersebut.

Pada sesi tanya jawab, sang pemilik sekaligus pendiri perusahaan itu berkisah tentang perjuangannya dari awal membuka usaha.

"Andaikan dulu, saya menjalankan bisnis es krim persis seperti bagaimana guru-guru melakukan hal pada sekolahnya, mungkin saya tidak akan pernah bisa mengerjakan bisnis selama ini. Bahkan perusahaan es krim yang saya miliki tidak akan sebesar sekarang ini!" ucapnya dengan lantang.

Sontak ucapannya menimbulkan gaduh di lantai forum yang sebagian besar merupakan orang yang berprofesi sebagai guru.

Sang pemilik resep es krim terbaik itu memiliki dua keyakinan, "sekolah saat ini harus berubah. Sekolah membutuhkan perubahaan, karena sejak dulu sampai saat ini, mereka melakukan pemilihan dan seleksi cara kuno yang masih dilakukan, yang sebenarnya didesain pada era industri dan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mencari pengetahuan."

Para audiens, yang sebagian besar guru, mulai terdiam. Mereka perlahan menyimak apa yang sebenarnya miliuner itu katakan. Walaupun perkataan awal masih menyisakan penolakan, tetapi mereka tetap berusaha berpikir tenang dan jernih. Lalu dia melanjutkan, "selain masalah seleksi terhadap siswa yang diterima, hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah para guru mempunyai andil besar terhadap masalah tersebut!"

Seisi aula kembali riuh, tak terkecuali pembawa acara yang merasa perkataan pemilik perusahaan es krim itu telah menyerang dengan telak, "mereka, guru-guru itu tidak ingin berubah, mengurung diri dari pergaulan, dan hanya berdiam dalam komunitasnya sendiri. Tidak mau bergerak, mengikuti perubahan zaman yang semakin cepat. Mereka akhirnya terkungkung dalam masa jabatan yang dilindungi oleh monopoli birokrasi. Mereka perlu melihat dengan mata terbuka."

Setelah hening beberapa saat, berdirilah seorang audiens, seorang guru bahasa di sebuah senior high school, lalu dengan ramah dan sopan memulai pertanyaan kepada sang motivator, "Anda mengatakan bahwa Anda membuat dan memroduksi es krim yang lezat?"

"Yang terbaik di negara Amerika ini, Madam."

"Apakah es krimnya manis dan lembut?" tanyanya.

"Kandungan lemak 60%," jawab Vollmer, sang pengusaha dengan bangga.

"Apakah bahan bakunya istimewa?" sang guru kembali bertanya.

"Super premium, hanya bahan baku berkualitas tinggi," jawab Vollmer lagi.

"Mister Vollmer," guru itu lalu bertanya dengan alis terangkat, "apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berdiri di depan gudang dan Anda melihat kiriman susu, krim, perisa stroberi, atau blueberrynya yang datang kepada pabrik Anda ternyata jelek?"

Dalam kebingungan di aula tersebut, Vollmer mulai bisa menebak arah pembicaraannya dengan guru high senior schol tersebut. Dia bisa melihat sebuah pertanyaan jebakan yang siapa pun bisa menebaknya. Saat itu, Mr. Vollmer sangat bingung menjawab apa, tetapi dia pun tidak ingin berbohong ketika menjawab pertanyaan sang guru.

"Tentu saja, Madam, saya tidak menerima bahan baku kualitas buruk. Saya akan mengirimnya kembali ke si pengirim."

"Ya, betul sekali!" guru itu setengah berteriak, "Anda bisa dengan mudahnya mengembalikan apa pun yang tidak sesuai dengan keinginan Anda. Dan pabrik es krim ini selalu menerima bahan baku dengan kualitas tinggi."

"Sedangkan kami tidak pernah mengirim kembali blueberry atau apapun yang telah kami terima, Mr. Vollmer. Kami menerima itu dalam bentuk besar, kecil, kemerahan, ungu, manis atau kecut," lanjutnya dengan penuh keyakinan. "Itulah yang terjadi di sekolah kami. Kami selalu menerima anak-anak dalam bentuk apa pun: gemuk, kurus, kaya, sederhana, mewah, penuh bakat, jenius, korban pelecehan, berkebutuhan khusus, pemurung, percaya diri, tunawisma, yatim, broken home, orang tuanya yang bercerai, berperangai kasar, dan juga ada yang sangat baik perilakunya. Kami menerima semua anak itu dengan lapang dada. Kami merima semua! Setiap orang! Dan Mr. Vollmer, tahukan Anda, itu bukan bisnis; ini adalah sekolah!"

-ooOoo-

*) Tulisan ini disarikan dari buku "Guru Gokil Zaman Now", berkisah tentang seorang pengusaha sukses, pemilik perusahaan es krim terbaik di Amerika, Jamie Robert Vollmer

#OneDayOnePost
wali, agama, Islam, Jogopaten, Bengawan Solo


"Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim

Sluman sluman slamet

Slamet kersaning Allah

Sengkola-sengkolo podo nyingkir

Jatu kramaku cepakno

Laa ilaha illallah teguh rahayu

rahayu..."

-ooOoo-

Tak terbayangkan dalam pikiran saya, bagaimana peradaban Islam dimulai di tanah Nusantara yang sangat kaya raya ini. Bukan saja karena luas wilayahnya jauh melampaui Jazirah Arab, atau karena daratannya terpisah satu sama lain, terhalang oleh lautan dan samudera. Tetapi bangsa Nusantara ketika zaman pra-Islam sudah memeluk sebuah keyakinannya sendiri, sangat berbeda dengan kayakinan dalam agama Islam. Terlebih ratusan tahun mereka meyakini sebagai dewa dan penguasa alam lainnya (dinamisme). Masa awal penyebaran ajaran Islam, tentu sangat berat dan bukan hal gampang yang hanya membutuhkan waktu satu atau dua tahun. Nusantara kini, mayoritas merupakan Muslim, adalah buah manis dari penyebaran dengan pendekatan budaya, dakwah bil hikmah, tanpa kekerasan, dan dilakukan dalam kurun waktu hampir sama dengan usia agama Islam itu sendiri.

Alas Jogopati, berupa alas, hutan belantara. Letaknya di sebelah utara Sungai Bengawan Solo, merupakan daerah yang didiami oleh jin dan makhluk gaib lainnya. Sedang masyarakat di sekitarnya memiliki kepercayaan kepada dewa-dewa dan kekuatan gaib yang sangat kuat. Tugas berat diemban oleh Bagus Turmudi atau dikenal dengan Kiai Abdul Jalal I, sesuai amanat dari gurunya, membuka alas tersebut, membuat pemukiman baru, membentuk tatanan masyarakat yang sesuai dengan syariat, dan mengajarkan penduduk sekitar Jogopaten tentang ajaran Islam yang murni. Jogopaten, berasal dari kata jogo-jogo pati, berjaga terhadap kematian, bermakna tempat ini sangatlah berbahaya, dari penduduk asli maupun dari bangsa jin yang ganas. Hampir tak ada seorang pun yang berani babad alas, membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat bermukim di daerah Jogopaten ini. Banyak orang yang mencoba menyusuri bantaran Bengawan Solo, menuju Jogopaten, pada akhirnya tidak bisa kembali lagi.

Buku hasil tulisan dari E. Rukajat Asura ini, menggunakan bahasa yang sangat ringan, (tentu saja, karena buku ini merupakan novel, bukan buku teks sejarah yang bagi orang awam membutuhkan konsentrasi tinggi) sehingga kita bisa menikmati membaca sejarah tanpa mengerutkan kening. Sejarah tentang perjalanan Kiai Abdul Jalal I menyebarkan ajaran agama Islam, menebar benih kebaikan berupa akhlakul karimah diceritakan di sini mulai dari masa kecil Kiai Abdul Jalal I, dengan nama asli bagus Turmudi, belajar di pondok pesantren, menikah, dan akhirnya mendapatkan amanah untuk pergi ke sebuah tempat dengan satu tujuan babad alas, menyebarkan syariat Islam.

Dalam buku "Kiai Abdul Jala I" ini dikisahkan pula bagaimana pendahulu penyebar Islam merubah keyakinan penduduk asli dengan jalan damai tanpa sama sekali menumpahkan peperangan atau konflik yang berarti. Beliau-beliau adalah ulama yang benar-benar paham tentang ajaran Islam, sehingga cara yang ditempuhnya pun tidak kaku.

Hal yang paling menarik adalah tembang "Lir Ilir", sebuah tembang karya Sunan Kalijaga, yang disenandungkan oleh anak-anak kecil. Memang "Lir Ilir" merupakan --dalam bahasa sekarang disebut-- lagu anak-anak. Tetapi di balik keriangan tembang, terdapat makna yang sangat dalam tentang ajaran Islam, bahkan begitu terasa maknanya sampai sekarang.

Lagu "Lir-ilir" sendiri merupakan terjemahan bebas dari Alquran surat Al-Mudatstsir ayat 1 - 4. Surat ini merupakan wahyu kedua setelah surat Al-'Alaq yang diturunkan di Gua Hira. Kurang lebih tafsiran lagu tersebut seperti ini:

(lir-ilir lir-ilir) Bangkitlah, bangun dari kemalasan, bangun dari tidur panjang. Makna ini selaras dengan pesan di dalam surat Al Mudatstsir di awal ayat.

(tandhuré wis sumilir) Benihnya telah bersemi, keimanan yang ditanam para Wali itu telah tumbuh bersemi

(tak ijo royo-royo) Tampak hijau segar, ijo, hijau melambangkan warna lambang Islam yang selalu membuat ummat manusia segar, damai, tenteram

(tak senggo temanten anyar) Bagai pengantin baru, seperti sepasang manusia baru yang dirubung dengan kekaguman akan kecantikan dan ketampanan atau kemurnian Islam yang memesona, yang bercahaya

(bocah angon, bocah angon) Wahai para gembala, setiap dari kita adalah bocah angon, menggembala diri sendiri agar tetap berada dalam keimanan yang kokoh, berjalan pada jalan yang lurus, seperti sabda Nabi SAW, kulluukum raa'in

(pénékno blimbing kuwi) Panjat, ambillah belimbing itu, belimbing yang memiliki sisi lima dilambangkan sebagai agama Islam yang memiliki lima rukun. Memanjat di sini menyuruh agar kita memeluk erat ajaran Islam

(lunyu-lunyu pénékno) Sekalipun licin, tetap panjatlah, akan selalu datang ujian, kesusahan, tetap pelajari dan laksanakan ajarannya

(kanggo mbasuh dhodhot iro) Untuk mencuci pakaian kalian, untuk membersihkan akhlak kita semua agar tetap terjaga dan selalu memiliki hati dan pikiran suci

(dhodhot iro, dhodhot iro) Pakaian kalian, pakaian kalian, sekali lagi menekankan kepada pakaian, akhlak mulia yang harus kita miliki

(kumitir bedah ing pinggir) Terburai sobek di pinggirnya, masih terselip kekurangan untuk menutupi aurat dan menghiasi jasad manusianya

(dondomono jlumatono) Maka jahit dan sulamlah, maka tambal, tutup dengan ibadah-ibadah sunah, hiasilah dengan akhlak mulia

(kanggo seba mengko soré) Untuk (kau pakai) menghadap nanti sore, untuk bersiap sebagai pakaian yang digunakan salat Maghrib, atau diterjemahkan juga sebagai bekal kelak ketika kita menghadap Allah Azza wa Jalla saat usia senja

(mumpung padhang rembulané) Selagi benderang cahaya rembulan, selagi cahaya Islam masih menyinari kalbu, selagi cahaya Islam masih menyinari semesta

(mumpung jembar kalangané) Selagi masih terbuka lebar kesempatannya, mumpung masih berada di alam dunia, masih hidup sebelum mati, mumpung masih kaya sebelum miskin, mumpung masih lapang sebelum sempit

(yo surako surak hiyo!) Mari bersorak, sorak ayo!, selalu merayakan, bersyukur ketika ikhtiar telah kita lakukan sebaik-baiknya, tinggal bertawakal

-ooOoo-

Sepertinya buku ini benar-benar harus dibaca oleh siapa pun yang ingin belajar sejarah, mengenal para penyebar Islam awal di tanah Nusantara, khususnya ulama yang bermukim di bantaran Bengawan Solo, bagaimana keilmuan mereka, sikap tawadhu'-nya, perjuangannya menghadapi masyarakat dengan kepercayaan dinamisme sampai bangsa jin, cara-cara dakwah bil hikmah yang mereka lakukan, sampai menyikapi budaya yang telah mengakar.

Kisah-kisah "ajaib" dan membuat diri kita takjub bertebaran hampir di setiap halaman, mengajak kita semua untuk bermuhasabah terhadap diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan untuk membawa agama Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin. Sudah sebandingkah perbuatan kita dengan apa yang dilakukan para pendakwah awal, atau sudah benarkah cara-cara yang kita lakukan, yang sebenarnya kita harus mewarisi cara-cara para wali (pendahulu penyebar Islam) dalam membawa agama yang dibawa Kangjeng Nabi Muhammad SAW ini.

Pada awal tulisan merupakan rapalan tatkala orang-orang hendak membuka hutan belantara, babad alas. Tampak seperti jampi-jampi, tetapi selalu diawali dengan asma Allah, Bismillahir Rahmanirrahim, dengan menyebut asma Allah, bukan menyebut apa pun selain Allah. Bukan menyebut dewa, atau penguasa hutan, atau penunggu pohon, tetapi tetap dengan keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Yang Maha Kuasa.

Sebagai penutup akan saya tuliskan kalimat yang benar-benar membuat diri saya tersadar akan tugas seorang manusia di alam fana ini, seperti apa yang dikatakan Kiai Abdul Jalal I:

"Jadilah kalian matahari, senantiasa memberi terang kehangatan, serta energi yang merata di seluruh pelosok bumi, tanpa diminta dan tak pernah membeda-bedakan. Kalian tahu sendiri tak pernah ada wong yang tak tersinari matahari, hanya karena ia berdosa, sepanjang tak melindungi dari sinarnya. Juga tidak akan menerima sinar matahari melimpah sendiri, hanya karena orang itu banyak berbuat kebaikan."

Semoga bermanfaat. Tabik!

====================

Judul Buku: Kiai Abdul Jalal I, Sang Penakluk Jogopaten: Bulan Sabit di Atas Perdikan Kaliyoso
Penulis: E. Rokajat Asura
Penerbit: Imania
ISBN: 978-602-7926-14-1
Jumlah Halaman: 282 halaman
Genre: Novel Sejarah
Cetakan I, Mei 2014

====================

-ooOoo-


#OneDayOnePost
#ResensiBuku
#Agama
#TantanganRCO
#ReadingChallengeODOP

AIR


Berbicara tentang air, dalam sudut apapun, merupakan wujud yang paling penting dalam kehidupan seorang manusia, bahkan bagi alam semesta. Lihatlah bagaimana air mengambil peranan sangat penting dalam tubuh manusia, dimana terdapat 70% - 80% air dan berdiam di dalam sel, darah, jaringan, otak, sampai tulang dan kulit. Begitu pula dengan planet bumi yang kita diami, sebagian besar (kurang lebih 75%) merupakan air. Hanya sebagian kecil dari bagian bumi ini adalah daratan. Artinya tempat tinggal penduduk bumi begitu sedikit, berbanding dengan jumlah penduduknya yang mencapai 7 milyar! Berbagai penelitian luar angkasa selalu saja mencari jejak pada permukaan benda-benda angkasa. Salah satu faktor terpenting adalah kandungan air, sehingga jika salah satu benda angkasa tersebut terindikasi mengandung air, maka dipastikan benda tersebut pernah disinggahiatau masih didiami oleh makhluk hidup.

Air dan Kesehatan

Konon, berbagai cerita tentang pengobatan menggunakan terapi air. Hal paling mendasar adalah kita disarankan agar minum air sebanyak 1,5 liter sampai 2,5 liter. Ukuran standarnya adalah 30 mL air setiap 1 kg berat badan. Berarti jika memiliki berat badan 60 kg, konsumsi air per harinya adalah 60 x 30mL, yaitu sebanyak 1800 mL atau 1,8 liter per hari. Air dari embun dapat kita gunakan juga untuk menjaga kesehatan tubuh. Tampung air embun, mulai dari jam 11 malam, gunakan sebuah wadah yang disimpan di atap rumah, pada subuh, sebelum matahari terbit, air embun yang terkumpul bisa diminum.

Peneliti berkebangsaan Jepang, Masaru Emoto sudah sejak lama meneliti "keajaiban" air. Dia melakukan penelitian dengan mengamati bentuk kristal molekul air. Setelah dibekukan pada suhu tertentu (di bawah 0 derajat celsius), molekul air akan mengkristal. Begitu dilihat bentuk-bentuknya, maka tampak berbagai bentuk mokeul air yang sungguh menakjubkan.

Air yang dibacakan doa sebelum dibekukan, ternyata memiliki bentuk teratur dan sangat indah. Berbeda dengan air yang diberi kata-kata kotor, ucapan makian, bentuk molekul airnya berantakan, tak beraturan, dan berwarna kehitaman. Bentuk molekul lainnya seperti air yang wadahnya diberi label "aku sayang kamu", "kamu baik sekali", dan kata-kata positif lainnya, membentuk kristal molekul air yang berbeda-beda dan semuanya begitu indah dan teratur. Tentu saja sebaliknya. Jika wadah air diberi label negatif, "aku benci kamu", "brengsek", dan lainnya.

Sampai sekarang, saya sendiri masih sering meminta air doa dari orang tua atau kakek. Hampir setiap pulang kampung atau berkunjung ke rumah kakek, saya menyediakan air mineral biasa dalam sebuah botol besar. Sejurus kemudian orang tua (ibu) atau kakek akan bersimpuh, merapal wirid-wiridan tertentu, diusapkan atau ditiupkan pada air tersebut. Saya sangat mempercayai khasiatnya. Dari dulu, sebelum Masaru Emoto mengemukakan hasil penelitiannya pada khalayak ramai.

Air dan Nama Tempat

Tak pernah habis memang untuk membahas wujud yang satu ini. Pada suhu di bawah 0, molekulnya akan mengkristal dan berwujud padat (es). Sedikit di atas 0 sampai 100 derajat, memiliki fase cair, menyegarkan, dan mensucikan. Sedangkan di atas 100 derajat akan menguap dan berubah wujud menjadi gas (uap air). Berperan sebagai pelarut universal, dapat melarutkan hampir semua senyawa, memiliki hukum anomali air, memiliki gaya antar molekul: ikatan hidrogen.

Di daerah kami, khususnya Tatar Priangan (dan hampir di seluruh Jawa barat), berbagai tempat menggunakan awalan "Ci", dari kata cai yang berarti air. Sebutlah Cianjur, Cibinong, Ciamis, Cimahi, Cicaheum, Cirebon, Cikande, Cicalengka, dan masih ci ci ci lainnya. Cibeureum  berarti air yang berwarna merah (ci = air, beureum = merah). Mungkin dulu kala air di daerah ini mengandung batu bata merah. Atau Cibodas, memiliki arti air berwarna putih (bodas = putih), yang saya yakini daerah ini adalah bebatuan kapur, sehingga airnya menjadi keputihan (bukan kebiasaan pada perempuan ya, maksudnya berwarna agak putih). Sedangkan Cikonéng dimana konéng berarti kuning, tidak lain karena di daerah ini tanahnya mengandung besi, Fe. Sehingga airnya berubah menjadi kekuningan. Terakhir Cibiru, karena air di daerah ini berwarna kebiruan, bisa saja di daerah ini banyak mengandung tembaga. Dan masih banyak daerah lainnya yang memiliki arti dengan awalan ci-.

Air dan Umat Muslim

Bagi umat Muslim setiap hari, bahkan setiap saat selalu bersinggungan dengan air. Mensucikan badan dengan mandi, menggunakan air. Lalu kita tahu jika thaharah wudhu menggunakan air mengalir; dalam keadaan junub, mandi besar memerlukan air; sahur dan berbuka puasa selalu diakhiri dan diawali meminum air; salah satu "keajaiban" yang ada di Kota Suci Makkah Al-Mukaramah adalah air zamzam, sejak zaman nabi Ibrahim a.s, Kangjeng Nabi Muhammad SAW, sampai saat ini, sampai detik ini terus mengalir tak pernah kering sesaat pun, padahal berjuta-juta orang, berpuluh bertahun, mengambil air ini untuk diminum atau dibawa pulang ke kampung halaman saat menunaikan ibadah haji.

Semoga bermanfaat.

-ooOoo-

#OneDayOnePost