:::: MENU ::::
Teknologi pembelajaran memasuki era milenial semakin semarak. Penemuan listrik dan komputer membuat perkembangan teknologi, dalam hal ini teknologi pembelajaran, melesat, meninggalkan pembelajaran konvensional yang masih bercirikan tatap muka dan terkungung dalam sebuah ruang yang dibatasi oleh tembok.

Kini, pembelajaran semakin canggih, sumber belajar tidak lagi berupa setumpuk buku-buku tebal yang cukup berat untuk dibawa, guru-murid tidak harus selalu bertatap muka secara langsung, jadwal pembelajaran ditentukan dengan kaku, sesuai dengan sekolah atau lembaga pendidikan yang mengadakannya.

Sumber-sumber belajar dengan buku fisik telah digantikan dengan digital book dan media komputer interaktif. Para murid hanya cukup membawa satu gawai dan dapat memuat puluhan, ratusan, bahkan ribuan digital book sebagai sumber belajar. Tidak hanya buku yang tampilannya statis, teknologi menyediakan sumber belajar lain yaitu aplikasi interaktif, dengan tampilan lebih dinamis: suara, animasi, video, gambar dan warna membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik.

Dengan adanya internet tatap muka secara langsung antara guru dan murid menjadi ciri pembelajaran konvensional kini digantikan oleh kelas maya atau kelas online, dimana murid berada di satu tempat sedang gurunya bisa jadi berada di tempat lain yang berjarak ratusan kilometer. Penggunaan video call, live streaming atau aplikasi sejenis memungkinkan pembelajaran tetap bisa berlangsung walaupun keduanya terpisah oleh jarak.

Kelas pun menjadi lebih cair dan dinamis. Hari ini kelas bukan hanya sebuah ruangan dalam sebuah bangunan dengan tembok mengelilinginya. Mereka –para murid– dapat lebih leluasa memilih kelasnya: mata pelajaran, waktu, guru, dan metode sesuai dengan gaya belajarnya. Ada yang lebih senang menggunakan video sebagai tutornya, ada juga yang menggunakan blog (tulisan), dan murid lainnya hanya memutar audio book karena lebih cenderung bergaya auditori.

Salah satu situs yang mengakomodir teknologi pembelajaran era digital adalah rumahbelajar.id, merupakan sebuah situs dari Pustekkom berupa situs pembelajaran interaktif berisi berbagai bidang keilmuan, digital book, video, termasuk di dalamnya kelas online yang memungkinkan murid belajar dimana pun, kapan pun, dengan siapa pun. Begitu pula dengan guru, dapat membuat kelas online, memberi konsep materi, dan mengadakan ujian tanpa harus repot, memakan waktu lama dalam kegiatan koreksi.

Bebrapa menu dari situs rumahbelajar.id ini, diantaranya:

1. Art and Humanities
2. Education
3. History
4. Journal
5. Language
6. Life Science
7. Literacy
8. Mathematics
9. Social Science

Fitur keren yang bisa digunakan oleh para pengajar adalah Kelas Maya (saat ini telah migrasi menjadi Kelas Digital). Kelas Maya berbasis leraning management system, memungkinkan para pengajar mengadakan pembelajaran secara daring (online), memaparkan konsep materi, memberi tugas, mengadakan latihan atau ulangan, dengan keunggulan semua pekerjaan koreksi secara otomatis, sehingga para pengajar tidak lagi menghabiskan waktu lama untuk mengoreksi latihan atau ulangan anak-anak didiknya.

Lebih baik mana: ilmu atau akhlak? Bukankah Kangjeng Nabi SAW diutus kepada umatnya untuk menyempurnakan akhlak?

Saya sendiri pernah menulis tentang "sampurasun", salah satu ungkapan dalam budaya Sunda yang sangat luhung maknanya. Dan ucapan salam ini pernah dipelesetkan oleh orang berilmu dengan 'campur racun'. Dimana salah satu makna dalam beberapa versi, sampurasun mengandung arti "hampura ingsun", mohon maaf diri saya. Sampurasun sendiri diucapkan ketika seseorang bertemu atau bertamu kepada orang lain. Ketika saya ingin bertamu ke rumah seseorang, saya akan mengucapkan kata tersebut, dengan kata lain sebelum bertemu saya mengucap 'mohon maaf diri saya, jikalau kedatangan saya mengganggu istirahat tuan rumah, atau sedang bekerja di dapur, atau sedang bisnis rumahan, lalu saya bertandang dan mengganggu aktivitasnya.

Bayangkan, belum bertemu saja, belum mengobrol sudah meminta maaf, karena kepicikan manusia, ketidaktahuan apa yang sedang dilakukan tuan rumah. Betapa indahnya ketika semua orang selalu meminta maaf, karena apa yang kita lakukan, kita ucapkan bisa jadi membuat orang lain terganggu dan tersinggung.

Sayang beribu sayang, saat ini ungkapan "jangan baperan" mengalahkan makna sampurasun yang begitu sarat makna dan beretika. Orang-orang dengan pedenya berkomentar apa pun, menulis apapun, sampai pada titik ada orang lain yang merasa tersinggung sakit hati hanya dibalas dengan "sudah, jangan baperan. Gitu saja kok sakit hati!". Akhirnya orang itu akan memaksa orang lain untuk memaklumi apa yang dilakukan dan diucapkannya, dan tidak perlu tersinggung.

Banyak orang pintar berilmu namun tidak berakhlak: banyak orang berjas berdasi tetapi korupsi; banyak orang hebat dengan jabatan tinggi tetapi senang merendahkan orang lain; banyak orang memiliki kelebihan dibanding lainnya tetapi tinggi hati.

Dan banyak orang merasa orang paling benar, lalu dengan gampangnya menyalahkan dan menjelek-jelekkan pendapat dan keyakinan orang lain. Peduli amat apakah kelakuan dan ucapannya menyinggung orang lain atau tidak! Jauh dari budaya 'sampurasun' yang sudah meminta maaf sebelum berinteraksi, sebelum bertemu, ketika mereka yakin akan kebenarannya untuk apa meminta maaf, peduli amat dengan orang lain tersakiti atau tidak.

Dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw.: "Jangan pernah membicarakan hartamu di hadapan orang miskin; jangan pernah membicarakan kesehatanmu di hadapan orang sakit; jangan pernah membicarakan kebahagiaan dan kekuatanmu di depan orang lemah; karena mereka tidak mampu menahan luka yang lebih dalam."

Arti bebasnya (dengan sepemahaman saya), walaupun benar diri kita kaya raya, mempunyai mobil sport built up, rumah lantai 4, batu bacan ukuran bola tenis, tapi jangan pernah membicarakannya di hadapan orang papa, orang fakir miskin, karena akan menambah penderitaannya dengan sakit hati yang diakibatkan dari ucapan kita. Memangnya salah, bukankah kita berbicara benar bahwa kita kaya raya? Hanya saja ketika kita membicarakannya, tentu akan membuat orang papa itu menjadi lebih menderita.

-ooOoo-
Panjunan, malam minggu berangin muson barat

Samar hentakan kendang menggelikan daun telinga saya. Disusul ukulele cempreng, lalu suara gadis yang membelah langit Cirebon. Tak terlalu jelas, hanya hentakan itu selalu senada dengan tembang yang dia nyanyikan: gembira sekaligus mendayu.

Setiap menit berlalu, hentakan kendang, petikan ukulele dan alunan merdu gadis itu semakin jelas. Dari kejauhan muncul lima pemuda tanggung, kumal, berpakaian lusuh, hanya bersandal jepit. Empat orang laki-laki: penepuk kendang, pemetik ukulele, pemain kecrekan, dan yang memegang alumunium foil sisa bungkus Chitato barbeque flavor lalu menyodor-nyodorkannya ke orang, meminta sedikit recehan.

Bintangnya adalah gadis berambut hitam sebahu, berpipi mekar, dengan mata hitam bulat belo, mendendangkan lagu-lagu trending dangdutan Via Vallen.

"... Secawan madu yang kau berikan
Tapi mengapa kau tumpahkan?
Kau bangun cinta yang menjanjikan
Dirimu pula yang menghancurkan ..."

Orang-orang terpana dengan suara khasnya, merdu, mendayu, enerjik. Tentu saja, saya pribadi pun begitu kagum dengan kemampuan olah vokalnya. Rasanya sedang hadir Via Vallen yang sengaja meminjam jasad gadis bertubuh tinggi kurus dengan kulit cokelat terbakar.

Tak lama, ibu (Mamah Cireboon) memanggil pengamen jalanan itu agar mendekat. Beliau meminta agar kelima orang itu tetap bernyanyi beberapa buah lagu lagi sampai benar-benar selesai, dengan janji memberinya imbalan uang satu lembar berwarna hijau. Sontak para pengamen jalanan itu terlonjak gembira. Mereka dengan suka cita, semakin semangat membawakan lagu-lagu dangdutnya, bahkan bersedia menerima request dari ibu, apa pun lagunya.

Pada hari lain, masih dengan langit malam Cirebon, tempat yang sama, 100 meter dari Masjid Merah Panjunan yang tersohor, peninggalan dari Sunan Gunung Jati (konon, sebagai masjid pertama di daerah Caruban). Pengamen yang bukan pengamen yang sama diceritakan dalam tulisan di atas mendekat. Hanya berbekal gitar tua yang sudah penyok di sana sini dan keberanian tiada tara, dia membawakan lagu "Aku Rindu Padamu"-nya Evie Tamala. Suara cemprengnya membuat gelas kaca di meja hidangan bergetar pelan (saking tidak tahan menerima suara cempreng pengamen itu, hehehe). Nada suara  ada di selatan, notasi gitarnya malah ke utara alias tidak nyambung alias fals.

Tanpa ba-bi-bu, ibu menyuruh saya untuk memberi recehan kepada pengamen itu. Di kantong hanya ada logam lima ratus yang langsung saya kasih kepadanya. Ibu tampak senang, semakin cepat diberi recehan, semakin cepat pengamen itu pergi dengan suara cemprengnya.

-ooOoo-

Orang yang memilik iman kepada Tuhan (apa pun agama yang diyakininya) selalu berdoa kepada Yang Maha Memiliki. Setiap waktu mereka bersimpuh, mengepalkan tangan di dada lalu tertunduk, membuka kedua telapak tangan mengangkatnya sampai sebatas dagu, atau menempelkan kedua telapak tangan yang terbuka mengapit sehelai bunga lalu meletakannya tepat di ubun-ubun, meminta semua asa, impian, dan permohonannya. Semakin diri mereka merasa dalam keadaan terpuruk, semakin kuat mantra-mantra doa mereka rapalkan.

Konon, Tuhan sangat senang dengan doa-doa hamba-Nya. Karena dengan berdoa, hamba itu menyadari bahwa mereka hanyalah makhluk yang lemah, yang hanya dapat meminta kepada Zat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memberi apa pun. Semakin sering hamba itu berdoa, Tuhan semakin menyayangi hamba itu.

Cerita pengamen pada bagian tulisan sebelumnya, adalah analogi serupa dengan hamba yang berdoa. Jika Tuhan "menyenangi" hamba-Nya, Dia biarkan orang itu untuk terus berdoa, berdoa lagi, dan berdoa lagi, tanpa langsung mengabulkan semua doa yang diiringi isak tangis pada dua pertiga malam itu. Sampai pada saat yang tidak disangka-sangka, Tuhannya memberi semua yang berada dalam doanya, bahkan melebihi apa yang dimintanya, berlipat-lipat.

Sebaliknya, jika Tuhan "tidak menyukai" hamba-Nya, maka ketika dia berdoa dengan tergesa tanpa ada perasaan khusyuk, raja dan khauf dalam doanya, Tuhan langsung memberinya sesuai dengan apa yang ada dalam doanya tersebut. Padahal sesuatu yang seorang hamba baik, belum tentu baik di "mata" Tuhan Yang Maha Pengaasih. Dan, tentu saja, sesuatu yang menurut seorang hamba tidak baik atau buruk, bisa jadi di "mata" Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengampun adalah sangat baik.

So, jangan pernah lelah untuk berdoa, kapan pun, dimana pun (khususnya di waktu-waktu yang mustajab) dengan diiringi ikhtiar sehebat-hebatnya.

Tabik!

-ooOoo-

#OneDayOnePost

#SebarCeritaBaik

#Day4
Silakan tanya kepada para guru, 'apa yang dilakukan oleh bapak ibu, menjelang tahun pelajaran baru tiba?' Saya yakin, sebagian besar akan menjawab dengan kompak, 'membuat perangkat pembelajaran: program tahunan, program semester, penetapan indikator pencapaian kompetensi, silabus, RPP, analisis keterkaitan KI dan KD, analisis SKL, dan segala macam tetek bengek dokumen lainnya.'

Sebagian lainnya mungkin tidak. Karena perangkat pembelajaran itu 90% hampir sama dengan tahun pembelajaran sebelumnya. Berbeda jika seorang guru tahun ini mengampu mata pelajaran yang berbeda. Tapi selebihnya hanyalah disesuaikan dengan kondisi pada tahun berjalan. Yang membuat diri saya tidak habis pikir adalah format silabus dan RPP yang hampir setiap tahunnya berubah. Ya, berubah!

Coba bayangkan ketika ada perubahan format silabus dan RPP (bukan 'content'-nya, ya), lalu pihak sekolah akan mengadakan pertemuan guru-guru hanya membahas "perubahan format" rencana pembelajaran pada tahun itu. Hanya membahas perubahan format. Berbagai persiapan, fisik, sarana, anggaran, dan tetek bengek lainnya hanya untuk mengadakan pertemuan tersebut. Tentu saja saya (termasuk guru-guru lainnya) hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena semakin bingung mengerjakan perangkat pembelajaran tersebut.

Okelah, saya akui bahwa setiap kegiatan apa pun, bahkan hanya untuk membeli lauk untuk keperluan di rumah untuk esok pagi, harus memiliki perencanaan yang matang. Apalagi untuk kegiatan mengajar yang melibatkan ratusan bahkan ribuan anak didik di satu sekolah selama satu tahun, tentu saja persiapannya harus benar-benar matang, tidak boleh setengah matang, mentah, atau bahkan terlalu gosong.

Sayang sekali jika silabus dan RPP tiap tahunnya berubah format. Dan kami selalu disibukkan hanya karena perbuahan format tersebut. Akibatnya fokus pekerjaan rumah menjelang tahun pelajaran baru adalah bagaimana merubah RPP tersebut sehingga sesuai dengan format terbaru. Padahal yang lebih 'urgent' adalah bagaimana merubah RPP tahun ini dari tahun lalu, dengan kondisi 'intake' sebagian besar anak-anak didik tahun ini kecenderungannya bergaya belajar psikomotor.  Padahal tahun lalu sebagian besar memiliki gaya belajar visual-auditori.

Sayangnya lagi terkadang pihak sekolah terlalu memfokuskan pada RPP dibanding dengan EGP - Evaluasi Guru Pembelajar, lebih banyak membahas rencana pelaksanaan pembelajaran, dibanding evaluasi guru pembelajar. Dan guru-guru lebih banyak memperbincangkan (di dalam rapat) tentang RPP, padahal evaluasi bagaimana pelaksaan pembelajaran dan kondisi anak-anak didik tahun lalu sangat penting untuk dibahas.

RPP versus EGP

Dalam perjalanan selama mengajar, saya mulai menemukan pola bagaimana mempersiapkan bahan ajar dan pelaksanaannya. RPP ('lesson plan') hanyalah sebagian kecil dari perangkat pembelajaran yang harus dimiliki seorang guru. 'Lesson plan' bukanlah sebuah alat yang mutlak menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Pada praktiknya di lapangan terkadang guru merubah 'lesson plan'-nya sendiri karena situasi dan kondisi di kelas tidak memungkinkan melaksanakan 'lesson plan' yang sudah dibuat.

Contoh sederhana ketika di dalam 'lesson plan' guru mengadakan evaluasi metode kuis menggunakan alat bantu LCD proyektor. Semua soal dan poin (termasuk animasi, video, dan lainnya) telah disiapkan dengan matang terintegrasi di dalam satu file presentasi yang akan ditampilkan di layar LCD. Pada hari H, tepat ketika guru tersebut berada di kelas, tiba-tiba listriknya mati atau lampu LCD proyektornya mati atau kabelnya rusak dan sebagainya. Dengan kondisi seperti itu apakah guru itu secara spontan membatalkan evaluasinya? Lalu membatalkan semua proses belajar mengajar, karena di dalam 'lesson plan' sudah tertera rencana pada tanggal itu jam sekian pertemuan kesekian mengadakan evaluasi dengan metode kuis?

Tentu saja tidak, bukan. Dibuatlah 'alternative plan', rencana cadangan agar evaluasi tetap berjalan pada saat itu. Artinya 'lesson plan' sangatlah fleksibel, tidak kaku, tidak mutlak harus seperti yang dituliskan. Itu hanya sebagian contoh kecil. Arti yang lain, 'lesson plan' atau tetap dengan istilah populer RPP hanyalah sebagian kecil dari proses belajar mengajar. Kalau hanya meributkan tentang format tanpa menyentuh substansi, sekali lagi, sangat disayangkan. Dan saya lebih memilih membuat 'lesson plan' hanya dalam satu halaman kertas, tetapi dengan evaluasi yang intens untuk dilaksanakan pada pertemuan atau tahun ajaran berikutnya.

Pengetahuan terus berkembang dengan cepat. Otomatis kurikulum pun akan berkembang, mau tidak mau, suka tidak suka, perkembangan dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Jika di negara maju sana, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, anak usia SD-SMP ('kids aged 10+) sudah belajar tentang bahasa pemrograman, 'coding', dan membuat aplikasi sederhana berbasis Windows maupun Android, bagaimana dengan anak-anak didik kita? Bagaimana dengan anak usia sekolah menengah atas yang masih tergagap-gagap dengan logika dan operasi matematika? Bagaimana dengan anak kita pada usia sekolah menengah atas yang masih latah dengan penggunaan 'smartphone' padahal ketika diminta untuk mengoperasikan tugas di komputer pribadi sama sekali tidak dapat menyelesaikannya?

Apakah kita terus menerus menghabiskan waktu meributkan format RPP setiap awal tahun ajaran, dibandingkan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar satu tahun terakhir dan mencari solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dan menemukan hal-hal yang dapat dikembangkan? Apakah kita lebih senang menghabiskan anggaran untuk rapat-rapat dari narasumber dengan agenda membahas RPP, dibanding mengadakan pelatihan menghadapi pendidikan 4.0, mengintegrasikan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan 'cloud storage'?

Demikian, semoga bermanfaat. Tabik!

-ooOoo-

#OneDayOnePost          #ODOP

#Day1           #SebarCeritaBaik
Kopi panas dalam cangkir putih itu selalu menggoda diriku, setiap paginya, bangkit dari hangatnya selimut untuk duduk di amben teras rumah. Siapa lagi kalau bukan pujaan hati yang begitu telaten dan sabar melayani apapun yang kuinginkan. Ah, senangnya. Dan kebiasaan ketika hari libur, jika tidak ada rencana kegiatan, kami berdua memanjakan diri barang sebentar di tempat tidur yang selalu hangat. Seperti melempar cerita lucu, bercanda, bermain tebak-tebakan, perang bantal, atau hanya sekadar saling senyum.

Selalu bersyukur, alhamdulillah, dan setelah mengecup keningnya sebagai rasa terima kasih saya mulai membuka laptop, menekan tuts-tuts keyboard menuliskan apa yang ada di pikiran, apa yang mengganjal di hati (tentu saja masih duduk di amben, sambil sesekali menyeruput kopi hitam, ditambah gula sedikit, susu yang sedikit, jahe bubuk sedikit, dan nikmat yang banyak). Tak ada pikiran atau ide untuk menulis. Buntu.

Akhirnya saya buka aplikasi KBBI ver V, lalu secara acak menggunakan metode random bolean dengan sampling error 3,2 saya menemukan kata "payung". Ya, payung! Sesuai dengan judul pada tulisan ini.

Pa.yung

1. n alat pelindung bada supaya tidak terkena panas matahari atau hujan, biasanya dibuat dari kain atau kertas diberi tangkai dan dapat dilipat-lipat , dan ada juga yang dipakai sebagai tanda kebesaran (seperti --bawat, --ubur-ubur, --iram-iram)

2. n kain berbentuk setengah bulatan diberi tali pada tepinya, dipakai untuk terjun dari pesawat terbang atau balon udara; parasut; payung udara

3. n ki barang apa yang melindungi (di atas kepala); pelindung dan sebagainya

4. n ki orang yang melindungi; pelindung

Begitu kata si KBBI tentang payung. Banyak juga arti dari kata payung. Kalau dilihat dari penjelasannya, nomor 1 dan 2 sudah tidak asing lagi buat kita semua. Payung itu, ya payung. Kalau musim hujan seperti ini pastinya banyak penjual yang ketiban rezeki nomplok dengan banyaknya orang membeli payung. Orang-orang biasanya menggunakan payung dengan digenggam pada gagangnya dengan posisi tepat di atas dada atau perut. Bisa juga di atas kepala, kalau orang itu hendak memayungi orang lain. Lihat saja tukang ojek payung memayungi pelanggannya.

Arti nomor 3 sama saja, namun memiliki arti lebih luas. Tidak melulu harus dibawa-bawa, bisa saja hanya disimpan begitu saja di lantai. Misalnya payung stand yang super-besar itu. Dengan ukuran sebesar itu mana mungkin dibawa-bawa. Hanya diletakkan begitu saja, bisa melindungi 5 - 8 orang sekaligu dari terik dan hujan.

Sedangkan nomor 4 tampaknya berarti kiasan, orang yang melindungi atau pelindung. Bukan saja benda mati, tetapi orangpun bisa berubah menjadi payung, asal dia bisa melindungi. Sakti sekali orang itu. Polisi, satpam, hansip, termasuk kepala rumah tangga termasuk kategori ini sepertinya. Mereka semua kan tugasnya memang melindungi. Pantas saja keponakan saya yang masih berusia 3 tahun ketika ditanya cita-citanya, menjawab Kekey pengen jadi payung sambil menunjuk dengan telunjuknya yang mungil menggemaskan.

Padanan lain dari kata payung diantaranya, seperti:

Payung ubur-ubur: Payung yang berumbai-umbai pada tepinya sebagai tanda kebesaran raja.

Pernah lihat kan? Sekarang banyak digunakan pada acara adat walimahan pernikahan. Biasanya untuk mengiring calon pengantin (laki-laki) dari luar tenda/gedung menuju tempat pelaminan. Dengan jalan sangat perlahan, si calon pengantin (walaupun enggak panas, enggak hujan) selalu dipayungi oleh pengantar yang berpakaian rapi, pakaian adat khas menggunakan payung ubur-ubur.

Payung putih: payung ulama

Mungkin karena identik dengan putih-putih, baik itu pakaian, sorban, sarung, jubah, ataupun memang karena memiliki hati dan pikiran bersih, jasad yang selalu dalam bersuci. Kebersihan termasuk kesucian memang dilambangkan dengan warna putih. Maka, kepada orang-orang yang memiliki ilmu, berhati dan pikiran bersih suci diberikan ungkapan payung putih.

Payung hukum: perangkat hukum yang melindungi atau menjadi dasar; undang-undang

"Tajam ke bawah, tumpul ke atas", sudah menjadi adagium diantara masyarakat kita ihwal para penegak hukum. Padahal payung hukum atau undang-undangnya sudah jelas. Padahal payung hukum atau aturannya sudah jelas. Tetapi tetap saja, manusia selalu terpengaruh kepada kepentingan. Bahkan hakimnya pun (yang konon sebagai "wakil" Tuhan dalam memutuskan suatu perkara) bisa-bisanya diintervensi dengan berbagai kepentingan.

Dua peribahasa di bawah membawa-bawa nama payung. Mungkin hanya ingin tenar dengan cara mendompleng kata payung, hehehe.

Sedia payung sebelum hujan: Bersiap sedia sebelum terjadi yang kurang baik

Dianjungkan seperti payung, ditambak seperti kasur: yang berarti sangat atau dimuliakan


Peribahasa pertama sering diplesetkan oleh anak-anak zaman now dengan sebuah tebakan, negara apa yang tidak pernah kena hujan? lalu beramai-ramai mereka menjawab, Swedia, swedia payung sebelum hujan.

Sekian saja dari saya. Semoga tulisannya bermanfaat ^_^

-ooOoo-


#OneDayOnePost
Aisyah, bocah umur empat tahun itu sedang asyik membolak-balik halaman buku cerita. Mulutnya komat-kamit, entah sedang berbicara apa, tetapi gayanya benar-benar seperti orang serius sedang membaca. Dari halaman pertama loncat ke halaman tengah buku, lalu kembali satu halaman sebelumnya, ditutup, dibuka lagi dari halaman satu, loncat ke halaman tiga, halamn empat, balik lagi ke halaman pertama, dan berulang seperti itu.

Tiba-tiba tawanya keluar nyaring, mengagetkan Ambu yang juga sedang serius membaca buku Sirah Nabawiyah karya  Ibnu Hazm Al-Aandalusi, dengan muka sampulnya putih terang dan kalimat Muhammad tercetak indah merah maroon "Apa yang lucu, Teteh?"

Ditanya seperti itu, Aisyah mengacuhkannya. Sekarang tawanya terhenti, malahan dahinya yang tampak berkerut seperti sedang berpikir sesuatu. Ada hal yang ganjil dari buku yang dipegang Aisyah, pengamatan Ambu ketika sekilas memperhatikan anak pertamanya itu. Akhirnya Ambu tidak kalah terbahak dari apa yang Aisyah perbuat tadi.

"Ih, apa sih Ambu bikin kaget Ais aja."

"Kamu tuh lagi baca apa?" Lalu tertawa kembali, "haha ..., kok serius amat. Memangnya Teteh bisa baca?"

"Bisa dong, Ambu. Kan kata Aki juga Ais pintel kayak Ibu Dewi Saltika." Sambil senyum-senyum sendiri, dirinya sangat senang disandingkan dengan Dewi Sartika, tokoh perjuangan rakyat Jawa Barat yang berhasil mendirikan sekolah Sakola Istri.

"Kalau bukunya terbalik seperti itu apa yang mau dibaca, Sayang?"

Bocah berlesung pipit itu kaget mendengar pertanyaan ibunya, lalu membolak-balikkan buku yang dipegang sedari tadi. "Eh, emang kebalik ya, Ambu?" Seringainya melebar menyimpan rasa malunya.

-ooOoo-

Sore beranjak. Matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Aisyah tertidur lelap. Fatimah selalu pulas jika sore menjelang. Mereka berdua akan kembali bangun beberapa jam setelah Asar, dan akan membuat rumah riuh rendah sampai menjelang tengah malam.

"Bagaimana hari pertama kerja pas bulan Ramadan, Abah?" Duduk di pekarangan belakang rumah, di atas amben bambu menghadap taman mungil serta kolam berhias air mancur dan air terjun buatan.

"Alhamdulillah baik, Ambu. Tetap ada saja bedanya kalau sedang puasa."

"Beda?"

"Iya, beda. Kita semua berpuasa jadi suasananya lebih adem, tidak ada yang makan atau minum." Abah bercerita bagaimana setiap hari sebelum mulai jam kantor, semua karyawan Muslim berkumpul di musala, tadarus dan bergantian mengisi kultum ringan, khutbah seputar keislaman.

"Sebenarnya lebih berat kalau sedang puasa sunah, Ambu. Kadang-kadang Abah hanya puasa sendiri, teman-teman lain ngajak makan siang bareng, belum lagi karyawan perempuan banyak yang berpakaian minim, rok di atas lutut, ..."

"Hadeuuh, itu mah kesenangan Abah." Ronanya memerah, mukanya sedikit ditekuk.

"Ambu ngomong apa, sih. Abah kan cerita apa adanya. Kalau dibilang senang, laki-laki normal pasti senang."

"Tuh, kaan ...!"

"Dengarkan dulu, Abah belum selesai bicara. Sekali lagi normal, Ambu. Yang nggak normal itu laki-laki senang sama laki-laki lagi, hehehe." Abah mencoba sedikit mencairkan, "tinggal bagaimana kita mengelola hati kita. Apa pas lihat seperti itu hati kita diikuti nafsu, atau langsung tersadar dan mengabaikannya. Toh, setiap perusahaan kebijakannya berbeda. Ada yang memang membebaskan pakaian karyawan ada yang menyeragamkan, dan sebagainya.

"Di bulan Puasa ini enak sih, semua karyawan tanpa kecuali harus mengenakan rok panjang dan jilbab, setidaknya kerudung menutup rambut. Dan, kalau Abah pikir, memang kita harus berpuasa sepanjang tahun."

"Maksud Abah, Ramadan-nya ada dua belas gitu? Terus kalau Idul Fitri harus puasa juga?"

"Bukan, Ambu. Jangan dulu berpikiran jelek. Maksud Abah, yang namanya puasa kan intinya mengendalikan hawa nafsu. Tentu saja ada yang membatalkan, seperti makan, minum, berhubungan, dan lainnya. Tetapi tetap intinya adalah mengendalikan hawa nafsu."

"Terus?"

"Banyak teman-teman Abah, kadang Abah juga sih, yang bilang kalau puasa jangan marah-marah coba. Atau hayo jangan bohong, kan lagi puasa. Seakan-akan kalau sedang puasa jangan marah dan bohong, kalau tidak puasa bebas, mau marah atau bohong juga. Akhirnya di luar bulan Puasa kita kembali kepada kebiasaan yang tidak sejalan dengan syari'at. Giliran puasa semua berkerudung, begitu selesai bulan Puasa, kerudungnya dibuka lagi."

"Iya juga sih, ya Abah. Mau bulan Puasa atau tidak, tadarusnya tetap harus kencang. Mau bulan Puasa atau tidak, mulut, telinga, mata dan hatinya tetap harus menghindar dari ghibah, hasud, hasad, dan suuzan."

"Nah persis seperti itu." Senyum Abah mengembang lebar, lalu hidungnya kembang-kempis seperti merasakan hal yang tidak beres.

"Kenapa, Abah?"

Sreep, sreep, penciuman Abah ditajamkan, "bau apa ini ya, kayak bau-bau gosong apa gitu. Ambu nggak nyium?"

"Masya Allah, Abah. Kolak!"

"Kenapa kolak?"

"Ambu lagi masak kolak di dapur. Gosong Abah, gosong!"

-ooOoo-


#RWC2019 
#Day3

"Selesai!" Bocah umur empat tahun itu bertepuk tangan girang. Matanya belum lepas dari layar TV yang kini menampilkan deretan nama orang-orang yang terlibat dalam produksi film yang baru saja dia tonton.

"Kalau sudah selesai, kita harus mengucapkan ...," Ambu mengingatkan anak sulungnya.

"Alhamdulillaahi lobil alamiin." Dengan lidah yang cadel, hampir berbarengan dengan ibunya, bocah itu mengusap kedua telapak tangan ke seluruh wajahnya. "Abah mana sih? Kok lama amat?"

Perhatiannya sudah beralih dari layar TV dan mencari sosok ayahnya, yang dipanggil Abah (dalam budaya Sunda ayah seringkali disebut dengan panggilan Abah, sedangkan ibu akan dipanggil Ambu).

"Hm, mungkin sebentar lagi datang. Memangnya Ais sudah nggak sabaran ya ketemu Abah?"

"Iya Ambu. Kan Abah udah janji mau beliin Ais es kelim wol pisang minion. Telus beli sali oti cokelat, telus beli awug Bibi Enah," mulutnya sengaja dimanyun-manyunkan, membuat Ambu tidak bisa menahan diri untuk mencubit bibir bawah Aisyah.

"Terus buat buka puasanya Abah beli apa?"

"Siloo ... op!" Dengan penyebutan huruf "o"-nya sangat panjang, bisa sampai dua puluh harokat. Hehehe.

Aisyah meloncat-loncat girang, karena hari ini adalah puasa pertamanya, puasa benar-benar puasa, tidak makan dan minum dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Puasa tahun ini juga adalah puasa pertama dirinya tanpa marah-marah, tanpa nangis, tanpa rengekan minta ini itu. Aisyah sudah mulai diajarkan bagaimana bersabar, bagaimana tidak melulu menuntut apa yang diinginkannya, tidak merengek-rengek kalau ibu dan ayahnya sedang bekerja. Bahkan Aisyah sudah mulai mengasuh adik kecilnya, Fatimah, mengemongnya, membantu memandikannya, menghibur jika sedang menangis, dan pekerjaan kecil lainnya.

"Nah, sambil nunggu Abah pulang, tadi kan Ambu tidak sempat nonton Nussa dan Rara, Ais bisa nggak ceritain ke Ambu?"

"Bisa atuh, Ambu. Kata Aki, Ais kan anak pintel, pintel kayak Ibu Dewi Saltika."

"Masa sih? Coba, sekarang Ambu mau dengerin cerita Ais saja."

"Nah, Ambu duduk di situ, diem ya. Tangannya dilipat di depan, halus duduk manis. Begini celitanya, dengelin ..."

(Jadi cerita di bawah ini cerita film Nussa-Rara yang Aisyah tonton, hanya ditulis dengan mengabaikan lidahnya yang cadel dan tambahan di sana-sini. Hehe, peace ...)

Jarum jam sudah menunjuk diantara angka 9 dan 10. Angin bertiup cukup kencang di luar. Tirai kelambu jendela kamar Rara melambai-lambai. Rara terbangun kaget, ketika dua makhluk tiba-tiba muncul masuk dari celah jendela. Perawakannya kecil, bersayap seperti kelelawar, terbang rendah menatap Rara yang ketakutan, dengan mata merah menyala, tanduk kecil di atas kepala, dan ekor kecil manjang sama panjang dengan tubuhnya.

"Ummii ...!" Teriakannya lemah, kalah oleh rasa takut dalam dirinya sendiri, "Ummi, Rara takut. Tolong Rara, Ummi," tak ada sahutan dari luar kamar.

Dengan susah payah, gadis kecil itu beringsut turun dari ranjang, lalu berjingkat keluar kamar. Selang beberapa saat, Rara sudah kembali dengan menggandeng Nussa, kakak Rara satu-satunya di rumah itu.

"Ada apa sih, Ra?"

"Itu Kak, Rara takut," telunjuknya mengarah kepada dua makhluk menyeramkan dengan seringai jahat.

"Kamu lupa berdoa dulu kan? Makanya tidurnya diganggu setan." Nussa, kakak Rara mengingatkan adiknya yang lupa berdoa, "kamu kenapa Ra, kok malah tambah ketakutak gitu?"

"Ampun Kak, jangan pukul Rara. Rara tahu salah, lupa nggak baca doa dulu sebelum tidur."

"Yeee, siapa juga yang mau mukul kamu. Niat Kakak, sapu lidi ini buat menepuk-nepuk kasur sebelum tidur, biar nggak diganggu setan. Kamu ini ya, sudah su'udzan duluan."

Nussa lalu mengajari adiknya cara-cara yang harus dilakukan sebelum tidur. Sembari mengucap bismillah, dia mengibas-kibaskan sapu lidi ke seluruh kasur tempat tidur Rara. Setelah itu, bagi orang yang hendak tidur sebaiknya dalam keadaan berwudhu. Berbaring di tempat tidur dengan posisi badan miring, sebisa mungkin menghadap kiblat, jika tidak bisa menghadap kiblat, miring ke kanan dimana posisi dada kiri berada di atas. Tidak layak tidur dalam posisi terlentang ataupun tertelungkup. Membaca Ayat Kursi, membaca selawat Nabi SAW, dan doa sebelum tidur.

Bismika Allahumma amuut wa ahya', lalu memejamkan mata.

"Ting tong!"

Bunyi bel membuyarkan keasyikan cerita Aisyah kepada ibunya. Bocah itu melompat dari sofa hijau favoritnya, lalu berlari menuju pintu ruang tamu, "Assalamu 'alaikum," suara berat seorang laki-laki mengucap salam terdengar dari luar.

"Wa 'alaikumsalaam, holeeh Abah pulang, holeh boneka buat Ais, holeh bawa silop ...," dengan perasaan girang tak menentu, dia memeluk erat-erat tubuh ayahnya yang mengangkat Aisyah tinggi-tinggi, menggenggam botol sirop kesukaannya, Marjan.

Selang beberapa lama, dentuman suara bedug terdengar dari musala samping rumah Abah Aisyah. Rumah itu kembali ramai, suara-suara riuh rendah menyambut azan Magrib dengan sukacita, walaupun hanya diisi oleh empat orang saja.

Allahumma baariklana fii ma razaqtana wa kina 'azaaban naar, ...

"Alhamdulillah, hari ini Teteh bisa puasa sampai tamat, Ambu senang sekali," lalu mengecup kening putri sulungnya, Aisyah.

"Telima kasih Abah, telima kasih Ambu, mentali hali ini belsinal celah ..." Aisyah berdiri dengan tubuhnya bergoyang mengikuti irama, "telima kasih Abah, telima kasih Ambu, Ais bisa belpuasa sehali penuh."

-ooOoo-

#RamadanWritingChallenge 
#OneDayOnePost
#SebarCeritaBaik
#Day2
Whooaa ... mulutnya terbuka lebar. Matanya tetap terpejam walaupun tubuhnya sudah duduk tegak di sofa hijau lumut favoritnya. Puasa pertama Aisyah diwarnai kegembiraan yang teramat. Sehabis salat tarawih, dia jingkrak-jingkrak begitu diajak oleh Abah pergi ke warung Cak Winarto untuk membeli makanan dan camilan buat sahur.

"Tuh kan, apa Ambu bilang. Kalau tidur jangan sampai larut malam. Kan begini jadinya, Teteh jadi susah dibangunin," seraya telapak tangannya mengusap rambut dan mengecup kening bocah masih balita itu, "lagian Abah malah ngajak-ngajak segala."

"Lho kan nggak ada salahnya, Ambu. Tadinya biar Si Teteh semangat buat shaum hari ini. Anaknya juga senang diajak beli makanan kesukaannya." Balas Abah membela diri.

"Iya, sebagai Muslim tentu saja harus berbahagia menyambut bulan penuh berkah dan ampunan ini."

Ambu kembali membujuk Aisyah bangun untuk sahur. Semalam, setelah turut Abahnya membeli keperluan sahur, bocah itu menyiapkan baju, kerudung, sandal, mukena dan merapikannya. Katanya buat salat Subuh berjamaah di masjid. Dan kegiatan itu pun merupakan salat Subuh pertamanya di masjid. Saking senangnya Aisyah begitu larut membereskan sendiri pakaiannya.

"Nanti Subuh, Ais mau pake keludung melah muda aja ya, Bah." Lagaknya seperti orang dewasa yang hendak melakukan perjalanan jauh berhari-hari, "Sajadahnya halus lapi, bajunya lapi, keludungnya lapi, mukenanya lapi, uang buat masjid juga kan halus lapi, ya Bah?"

"Memangnya kalau nggak rapi kenapa, Ais?"

"Nggak boleh Bah. Kan kata Pa Gulu, Allah suka sama olang yang lapi, yang belsih, yang suka jaga kebelsihan." Bibirnya merekah, senyum-senyum sendiri. "Nah, kalo udah, baju yang kuning buat besoknya lagi. Telus yang bilu, telus yang melah, telus yang putih, telus ... yaa bajunya habis deh, nggak ada lagi."

Keduanya, Abah dan Ambu, terkekeh melihat tingkah anak sulungnya begitu telaten menyiapkan pakaiannya sendiri. Mereka seakan orang yang paling bahagia se-dunia. Hanya memiliki dua orang anak, dengan Aisyah menjadi bocah kecil salehah dan tarapti --terampil-- saja sudah cukup bagi keduanya untuk bersyukur, merasa menjadi manusia paling beruntung.

Beranjak langit semakin terang, ketika matahari meninggi sepenggalah, Aisyah ikut beres-beres. Kebetulan, Ambu dan Abah libur berbarengan di awal puasa. Akhirnya pagi itu menjadi acara bersama keluarga. Hanya Bilal, adik bungsu Aisyah yang masih terlelap di kamarnya.

"Abah, Ais haus." Bocah itu duduk di rerumputan yang baru saja dipotong rapi. Kedua kaki mungilnya diselonjorkan, dihentak-hentakkan, dan entah sengaja atau tidak, mimik wajahnya dimanyun-manyunkan biar terlihat orang sedang kesal.

"Ya sudah, Teteh istirahat dulu sana."

"Nggak mau."

"Kok nggak mau?"

"Ais haus, Abaaah ...!" Suara cemprengnya terdengar sampai ruang dapur, dimana Ambu sedang bersih-berih juga.

"Tapi kan Teteh masih puasa." Lalu setengah merayu, "masa Teteh nggak bisa nahan haus, tuh Si Icha, anak tetangga sebelah saja bisa puasa, padahal ...,"

"Nggak mauuu, Ais haus!"

"Hayo ada apa ini? Teteh kenapa kok ngerengek di rumput?"

"Ini nih Ambu, Teteh sudah nggak sabaran nunggu bedug Magrib." Keduanya berusaha menghibur Aisyah yang terus menerus merengek, tenggorokannya haus sebagai kode bocah itu ingin minum. "Ntar kalau ada anak minum sebelum Magrib bakal ada malaikat yang bawa palu, terus anak itu dipu ..."

Omongan Abah mendadak berhenti, diikuti teriak tertahan Abah yang kesakitan terkena cubit Ambu. Mereka berdua saling tatap. Tatapan tajam Ambu seakan berkata jangan berbohong Abah. Walaupun niatnya baik, biar Teteh tetap kuat puasa tetap saja nggak boleh bohong.

"Ih, Abah ini bagaimana sih, memangnya ada malaikat yang kerjaannya mukul anak kecil?" Diikuti tawa pelan Abah, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Sudah, gini saja, kita masuk rumah, cuci kaki, ambil wudhu, terus tadarus sebentar, habis itu nonton TV deh."

"Benelan Bah, Ais boleh nonton TV?" Wajahnya mulai berseri lagi.

"Iya, kita nonton TV bareng-bareng ya, Bah." Ambu melanjutkan obrolan suaminya, "Kita nonton film Nussa Rara!"

"Yeeeaay, asyik! Ais mau nonton Lala," tubuhnya meloncat-loncat kecil mengelilingi kedua orang tuanya, "holee, holee, holee!"

Selang beberapa waktu dari dalam rumah terdengar lantunan syahdu ayat suci Alquran, "Yaa ayyuhalladziina amanuu, kutiba 'alaikumush shiam kamaa kutiba 'alallaziina min qablikum la'allakum tattaquum ..."

-ooOoo-


#RamadanWritingChallenge
#RWC2019
#Day1
#OneDayOnePost
#SebarCeritaBaik